Wednesday, January 4, 2012

Money's Too Tight To Mention At Inter


It’s fair to say that Inter have had better sts to the season. Although they qualified from the Champions League group stage with a game to spare, they currently languish in 16th place in Serie A. Admittedly they have a game in hand, but they are still a colossal 14 points behind league leaders Juventus with a third of the season gone.
The triumphant 2009/10 season when the nerazzurri became the first Italian team to win the treble of the scudetto, the Coppa Italia and the Champions League in a single year under the guidance of José Mourinho seems a distant memory. Inter fans have become accustomed to success, as that triumph meant that their team had won five league titles in a row (including the one awarded to them for 2005/06 by the courts after the calciopoli scandal).
There are many reasons behind this decline, not least an aging squad, but most of the problems are off the pitch. The board’s lack of a long-term strategy is evidenced by the rapid turnover in coaches since the “special one” moved to Real Madrid in the summer of 2010. Rafael Benitez’s miserable six-month reign did not reach Christmas, while past Brazilian international Leonardo lasted little longer, as he joined Paris Saint-Germain in June 2011.
His replacement, the former Genoa boss Gian Piero Gasperini, fared no better, as he was unceremoniously sacked after four defeats in five games, notable only for a plethora of formations that confused his own team rather more than the opposition. The current incumbent, Claudio Ranieri, brings vast experience to the role, but he is Inter’s fifth manager in less than two years.

"Should I stay or should I go?"
The club’s confusion is further highlighted by the names of the other managers that they approached for the position, including the likes of Fabio Capello, Guus Hiddink, André Villas-Boas and Marcelo Bielsa. If you can discern any similarities in their tactical approaches, then you’re a better man than me. Unsurprisingly, they all rejected the poisoned chalice.

The Price Of Inter's Success


There’s no doubt that the 2009/10 season was a triumphant one for FC Internazionale, better known as Inter, as they became the first Italian team to complete the treble by winning the scudetto, the Coppa Italia and the Champions League in a single year. In fact, Inter have been the dominant force in Italian football ever since the Calciopoli scandal in 2006, winning five league titles in a row, the first time this has been done since Juventus achieved the feat in the 30s.
This recent success must taste all the sweeter to Inter fans, as it follows a lengthy period of failure and disappointment. After winning the league in 1989, the nerazzurri endured 17 long years without taking the Serie A title, which was made even worse by their arch-rivals Milan sweeping all before them, but now the boot is well and truly on the other foot.
The victory over Bayern Munich in Madrid to secure the Champions League trophy represented the high point of Massimo Moratti’s reign as Inter’s president. Moratti is the fourth son of Angelo Moratti, who had been Inter’s owner and president during the club’s golden age from 1955 to 1968, when the team twice won the European Cup under the legendary Helenio Herrera. The current president took over the club in 1995, determined to restore Inter to its former heights, and he has spent a fortune attempting to fulfill that ambition.
"Mourinho and Moratti - the happy couple"
Using money earned from the family’s stake in Saras, an oil refiner, Moratti has repeatedly funded lavish spending sprees, twice breaking the world transfer record when buying Ronaldo from Barcelona and Christian Vieri from Lazio, but also splashing out on the likes of Roberto Baggio, Hernan Crespo and Juan Sebastian Veron.
Even so, Moratti has an impatient, not to say ruthless, side and he has gone through 14 managers in 15 years in his quest for honours, sacking many big names like the popular Luigi Simoni, Marcello Lippi, Hector Cuper and Roberto Mancini. When il Mancio was given the boot, Moratti explained that this was for the benefit of the club, “I intervened because I thought it was necessary … in the interests of Inter.”
In the past, Moratti has been criticised by many Inter fans, but he can hardly be accused of not putting his money where his mouth is, as he has spent around a billion Euros on delivering the dream. The president’s support has been an absolutely essential part of the club’s success, for the reality is that Inter do not make profits. Instead, they lose money. In fact, they lose a lot of money.

Monday, December 19, 2011

FIGHT FOR GLORY (Liga Indonesia 9 : patah tumbuh hilang berganti)

Ragunan, 21 Mei 2011



Menghadapi Liga Indonesia 9, kita tidak membuat kaos baru. Tapi kita menetapkan kalo setiap pendaftar baru akan mendapatkan kaos Gue Anak Jakarta, sedang untuk perpanjang kartu mendapatkan kaos Satu Jakarta Satu. Namun tema yang kita angkat adalah FIGHT FOR GLORY yang menunjukkan keinginan kita tuk bersama-sama Tim Persija berjuang lebih keras tuk mencapai sebuah kemenangan. Keinginan itu kita wujudkan dengan membuat kaos bertuliskan Fight For Glory dan kita bagikan ke seluruh anggota Tim Persija ketika mengawali kompetisi. Periode ini gw memang lebih mengkonsentrasikan diri untuk penertiban organisasi. Konsekwensi dalam penegakan aturan organisasi adalah kita harus siap kehilangan rekan2 yg selama ini berjuang tapi ternyata tidak bisa bertahan dengan aturan main organisasi. Satu persatu temen2 gw mulai menghilang. Ada yg disibukkan dengan tugas kerjanya ke luar kota, ada yg kawin hingga gw julukin 'Persija Sampe Kawin', ada juga yang terkena dampak dari aturan ketat yang gw terapkan. Yang paling mencolok adalah masalah Laporan Pertanggungjawaban. Setiap Divisi Organisasi harus bisa membuat laporan yg bisa dipertanggungjawabkan. Kalo ga bisa, silahkan out dan jadi anggota biasa. Biasanya yg begini karena malu langsung hilang batang hidungnya. Tapi gw punya keyakinan yg kuat kalo apa yg gw lakukan adalah untuk kebaikan organisasi. Dan gw yakin dari sekian ribu orang the Jakmania, banyak yg bisa berperan mengisi kekosongan jabatan di the Jakmania.

Panpel Persija waktu itu sangat siap dan mengakomodir semua keinginan the Jakmania. Namun justru dalam internal kita, gw mulai melihat ketidak disiplinan. Utamanya Korwil ! Awalnya gw ngangkat Korwil itu untuk supaya kita bisa mendapatkan ujung tombak dalam perekrutan anggota. Korwil juga diharapkan bisa menggalang dan mengkoordinir masa di wilayahnya masing2. Namun yang ada, mereka malah rame2 jual tiket di Stadion Lebak Bulus. Hal ini sangat gw hindarin. Karena tindakan ini justru menimbulkan imej negatif, terkesan pengurus the Jak itu seperti calo. Banyaknya Korwil yg jual tiket di stadion juga membuat banyak anggota yg merasa tidak perlu mencari tiket di wilayah masing2, toh di stadion juga ada. Hal ini membuat terjadi penumpukan masa di sekitar stadion dimana mereka mayoritas belum pegang tiket. Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan, karena bila sudah di stadion dan belum dapat tiket, sementara di dalam stadion sudah banyak penonton, biasanya menimbulkan kepanikan dan mereka akan coba cari jalan pintas dengan jebol pintu. Gw juga melihat korwil banyak yg nonton tidak bersama-sama anggotanya, karena mereka sibuk jual tiket di luar dan ketika akan masuk tribun Timur sudah penuh sehingga mereka masuk di Tribun Barat. Lalu kalo anggotanya bentrok, siapa dong yg bisa nenangin?

MENEMBUS TRADISI (Liga Indonesia 8 : selebritis ibukota)

Ragunan, 20 Mei 2011



Liga Indonesia 7 memang penuh kenangan. Selesai merayakan euphoria juara, dalam keadaan rambut masih berwarna oren, gw masuk kantor. Di kantor bos narik tangan gw dan ngajak ke suatu ruangan. Ruangan lux ber AC dengan meja besar dan lemari es disampingnya. Ruangan yg juga dilengkapi dengan fax, tivi, dan telpon. Itu adalah ruang wakil direksi yang seharusnya menjadi milik gw. Memang ketika itu gw ambil resiko ga naek jabatan demi mendukung Persija sekian hari di Makasar. Jujur, tidak ada sedikitpun terpikir penyesalan dalam diri gw. Yang ada kebanggaan karena Persija juara. Tanpa sadar tangan kanan gw bergerak memegang tangan kiri gw yang sudah dihiasi sebuah jam tangan berwarna hijau oren. Sebuah jam tangan pemberian Lurah Menteng Bapak Datuk saat acara perayaan Persija Juara.

Kaulan gw ketika Persija menjadi Juara bukan hanya jalan kaki ke Bunderan HI. Saat itu gw bertekad akan naek gunung sendirian untuk mensyukuri kemenangan ini. Sasarannya adalah Gunung Gede. Tapi ketika beberapa anggota tau niat gw, mereka langsung menyatakan untuk ikut. Karena banyak yg mau ikut, sasaran gw rubah menjadi Gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai. Jadilah 18 orang the Jakers berangkat menuju Cirebon. Salah satu the Jakers KM37, Pampam, kebetulan juga berasal dari Cirebon. Saat perjalanan kesana, kita ketemu Mantan Manajer Persija Bapak Aang Hamid Suganda. Beliau langsung menawarkan tuk mampir ke rumahnya. Disana kita dijamu makan enak, serta pulangnya diberi sangu gopeceng alias 500 rebu perak. Uang itu langsung kita belanjakan makanan untuk bekal mendaki. Doel Korwil Cikini Menteng beli teko listrik untuk masak kopi. Dia bilang kalo dia sering bikin kopi di Sekret dan alat ini bisa mempermudah pekerjaannya.

SATU JAKARTA SATU (Liga Indonesia 7 : Road to Champion)

RAGUNAN, 16 MEI 2011



Dari liga 6 ke liga 7 cukup banyak waktu kosong. Dulu kan belum ada yg namanya Piala atau Copa Indonesia. Beberapa korwil minta diadakan kegiatan, akhirnya timbulah ide untuk mengadakan Liga the Jakmania. Pesertanya adalah korwil yang masih nongol pada saat jeda kompetisi, 14 Korwil : Kebon Jeruk, Senen, Cengkareng, Ancol, Kemayoran, Sumur Batu, Pondok Pinang, Kali Deres, Manggarai, dll. Ada peribahasa mengatakan TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. Itulah tujuan utama diadakannya kegiatan ini. Biar sesama anggota bisa lebih saling mengenal yg ujung2nya bisa meredam keributan antar anggota. Keluar sebagai Juara adalah Korwil Cengkareng yang mengalahkan Korwil Kali Malang di Lapangan Banteng. Selesai pertandingan ada sedikit insiden disana. Ada copet beraksi. Copet paling apes yang pernah gw liat. Entah karena gondok kalah atau karena kesel capek, anak2 Kali Malang jadi kelompok yang paling semangat gebukin tu copet.

Setelah berhasil kampanye kebanggaan menjadi Anak Jakarta, kaos anggota berikutnya bertuliskan SATU JAKARTA SATU. Dulu seringkali terjadi keributan sesama sekolah, antar kampung, atau di kampus-kampus. Gw coba dengan kampanye Satu Jakarta Satu yang bermakna meski kita dari kampung yg berbeda, sekolah yg beragam dan kampus yg berdampingan, kita tetap mempunyai kesamaan dalam mendukung Persija. Itu sebabnya gw haramkan semua anggota tuk ribut sesama angota. Kalo terjadi, ga segan2 gw hukum berat. Alhamdulillah, kampanye tsb berhasil Tawuran anak sekolah terhenti, brantem antar kampung hilang, paling tidak itu yg bisa kita liat di Manggarai, anak kampus juga adem adem aje. Selain itu, arti slogan tsb juga sebagai gambaran dari keinginan kita agar Persija menjadi no 1 di Indonesia. Sebuah keinginan yang kemudian diwujudkan dengan tekad tuk memberikan dukungan lebih pada tim kebanggaan.

Budaya malu tuk gratisan tiket terus kita kampanyekan. Tapi kita melihat ada ketimpangan di tubuh Panpel. Setiap anggota yg masuk stadion tiketnya diambil tanpa disobek, atau ada juga yg dibejek. Semuanya kemudian dimasukan kantong plastik tuk kemudian dijual lagi ke calo2 tiket. Melihat ini, gw langsung ambil sikap tegas, Panpel harus seleksi lagi anggotanya. Harus yg benar2 cinta sama Persija. Harus orang2 yg bisa memberikan keuntungan buat Persija bukan sebaliknya. Semua anggota juga kala itu kompak, setiap masuk ngotot sama petugas penjaga pintu tuk minta sobekan tiket. Kalo ga dikasih? Ribut ! Namun gw juga mendapatkan banyak sekali calo tiket yang jual tiket khusus the Jakmania yg masih terbundel rapi. Aksi sweeping terhadap calo ini langsung gw lakukan. Beberapa calo yg ngotot gw hajar. Intinya, tidak boleh ada satu pihakpun yg jual tiket the Jakmania kecuali Korwil dan Tiketing the Jakmania.